Polling

Bagaimanakah kinerja instansi pemerintah daerah di Kabupaten Kebumen ?
Sangat Baik
Baik
Cukup
Tidak Tahu

Submit Lihat Hasil Polling

Hasil TMMD Desa Banjararjo
Sangat Baik
Baik
Cukup

Submit Lihat Hasil Polling

Profil / Sambutan Dandim 0709/Kbm

Sambutan Dandim 0709/Kbm

Hasil gambar untuk GAMBAR GARUDA.PNG

 

 

MENTERI SOSIAL
REPUBLIK INDONESIA

 

AMANAT MENTERI SOSIAL

REPUBLIK INDONESIA

PADA PERINGATAN HARI PAHLAWAN TAHUN 2017

 






















Hasil gambar untuk BISMILLAH.PNG

Assalamu’alaikum
Wr. Wb.,

Salam
sejahtera bagi kita se
mua,

 

 

Saudara - saudari
sebangsa setanah air, patriot Bangsa yang budiman,

 

Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT Tuhan yang
Maha Kuasa, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, yang memberi kita kesehatan
jasmani-rohani, kekuatan mental spiritual serta kesadaran untuk terus mengemban
semangat juang yang tegak berdiri diatas cita-cita Proklamasi Kemerdekaan
Republik Indonesia 1945.

      

Setiap tanggal 10 November, kita seluruh Bangsa Indonesia memperingati Hari
Pahlawan, mengenang para pendahulu kita, pahlawan dan perintis kemerdekaan,
para pendiri Republik Indonesia, mereka dengan segenap pemikiran, tindakan dan
gerakan perjuangan kolektif yang mereka lakukan, sehingga saat ini kita semua
bisa menikmati hidup di bumi Indonesia sebagai bangsa yang merdeka, bangsa yang
sederajat dengan bangsa lain, bangsa yang menyadari tugas sejarah-nya untuk
menjadikan kemerdekaan sebagai jembatan emas bagi terwujudnya Indonesia yang
merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur.

 

Para Pendiri bangsa mengabarkan pesan penting kepada kita. Pesan itu adalah
bahwa setelah kemerdekaan diraih, maka tahapan selanjutnya - kita harus  bersatu terlebih dahulu untuk bisa memasuki
tahapan bernegara selanjutnya yakni berdaulat, adil dan makmur. Oleh karena
pesan fundamental itulah maka peringatan Hari Pahlawan 10 November tahun 2017
ini kita mengambil tema “Perkokoh
Persatuan Membangun Negeri”.

 

Apabila kita mampu bersatu sebagai satu bangsa maka kita dapat maju bersama
- sama dan mendistribusikan berkah kemerdekaan bagi seluruh masyarakat
Indonesia.

 

Saudara - saudari sebangsa
setanah air, patriot Bangsa yang budiman.

 

       Hari Pahlawan yang kita
peringati saat ini didasarkan pada peristiwa pertempuran terhebat dalam riwayat
sejarah dekolonisasi dunia, yakni peristiwa “Pertempuran 10 November 1945” di
Surabaya. Sebuah peristiwa yang memperlihatkan kepada dunia internasional,
betapa segenap Rakyat Indonesia dari berbagai ras, suku, agama, budaya dan
berbagai bentuk partikularisme golongan – bersama sama melebur menjadi satu
untuk berikrar, bergerak dan menyerahkan hidupnya, jiwa raganya untuk
mempertahankan kemerdekaan Indonesia!

 

Saudara - saudari
sebangsa setanah air, patriot Bangsa yang budiman.

       Bung Karno pernah menegaskan
bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.
Kalimat singkat dari Bung Karno ini memiliki makna yang sangat mendalam bagi
kita semua. Tanpa pengorbanan dan perjuangan para pahlawan dan perintis
kemerdekaan, tidak akan ada gagasan besar untuk mendirikan sebuah negara yang
bernama Republik Indonesia.

 

       Dalam setiap rangkaian perjuangan
kepahlawanan yang membentuk keIndonesiaan kita, kita dapat mengambil pelajaran
dari apinya perjuangan para pendahulu kita, api yang menjadi suasana kebatinan
dan pelajaran moral bagi kita semua yakni, api yang membentuk terbangunnya
Persatuan Indonesia yang terdiri atas dua hal yakni adanya harapan dan
pengorbanan! Harapan dan pengorbanan itulah yang membentuk persatuan dan
melahirkan Indonesia, merawat eksistensinya dalam panggung sejarah
bangsa-bangsa, dan harus terus dinyalakan agar Republik Indonesia tetap berdiri
tegak, menjadi besar dan terus memberi sumbangan penting sebagai bagian dari
per-saudaraan ummat manusia di dunia.

 

Saudara - saudari
sebangsa setanah air, patriot Bangsa yang budiman.

 

       Berbagai sejarah kepahlawanan,
mengisahkan tentang menyala-nyalanya api “Harapan” yang menjadi pemantik dari
berbagai tindakan-tindakan heroik yang mengagumkan. Begitu pula Republik
Indonesia tercinta ini ketika diproklamirkan, dengan keberanian, tekad,
pemikiran orisinil tentang kehidupan bernegara yang tertuang dalam Pancasila
dan UUD 1945 dan pengorbanan yang besar, maka berkat rahmat Allah Yang Maha
Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan
kebangsaan yang bebas maka     rakyat
Indonesia menyatakan kemerdekaannya.

 

       Apakah yang menjadi pemantik
sehingga pendahulu kita berani memproklamirkan kemerdekaan saat itu? Keberanian
itu dapat digerakkan oleh sebuah modal tak ternilai dan tak kasat mata, modal
itu adalah adanya sebuah harapan. Sebuah harapan yang menimbulkan optimisme dalam
hidup, sebuah harapan yang membuka segenap potensi, kita punya vitalitas dan
daya hidup kemanusiaan untuk membuka terang kehidupan di masa depan, sebuah
harapan bahwa dengan mengantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang
Kemerdekaan Indonesia, maka kita dapat membangun sebuah kehidupan bernegara,
sebuah rumah tangga politik kebangsaan dan kenegaraan yang merdeka, bersatu,
berdaulat, adil dan makmur.

       Saat ini harapan akan masa depan
yang lebih baik tersebut telah ditambatkan oleh Pemerintahan Presiden Bapak
Joko Widodo dan Wakil Presiden Bapak H.M. Jusuf Kalla melalui sebuah visi
transformatif yang mengarahkan dan menghimpun gerak seluruh elemen Republik
Indonesia yakni: “Terwujudnya Indonesia
yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong-royong.”

 

       Dalam kerangka mewujudkan visi
tersebut telah dirumuskan sembilan agenda prioritas pemerintahan ke depan yang
disebut NAWA CITA. Kesembilan agenda prioritas itu bisa dikategorisasikan
kedalam tiga ranah: ranah mental-kultural, ranah material (ekonomi) dan ranah
politik. Pada ketiga ranah tersebut, Pemerintah saat ini berusaha melakukan
berbagai perubahan secara akseleratif, berlandaskan prinsip-prinsip Pancasila
dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

 

       Ketiga ranah pembangunan
tersebut bisa dibedakan tapi tak dapat dipisahkan. Satu sama lain saling
memerlukan pertautan secara  sinergis.
Perubahan mental-kultural memerlukan dukungan politik dan material berupa
politik kebudayaan dan ekonomi budaya. Sebaliknya perubahan politik memerlukan
dukungan budaya dan material berupa budaya demokrasi dan ekonomi politik.

Saudara - saudari
sebangsa setanah air, patriot Bangsa yang budiman.

 

       Republik Indonesia yang berdiri
atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa ini dapat kita terus nikmati
kemerdekaannya karena para pahlawan pendahulu kita mengajarkan kepada kita
keteladanan akan rela berkorban . Bung Karno mengingatkan berkali-kali dalam
berbagai pidatonya, bahwa kehidupan bernegara Republik Indonesia ini  hanya bisa terwujud dan menjadi lebih baik
dan maju kalau kita semua mau berkorban, mau memberi dan mau mengabdikan hidup
untuk merawatnya!

 

       Kalangan ulama sufi mengajarkan
mutiara kebijaksanaan, bahwa jalan membangun ketaqwaan dan hidup berkah dibawah
lindungan Allah SWT adalah dengan meluruhkan ego personal dan kepentingan
kelompok untuk meleburkan kita dalam tarian pengabdian kepada Sang Khalik
bersama dengan semesta alam.

 

       Saudara-saudara sekalian, bukan
sebuah kebetulan tanpa penghayatan dan pemikiran yang mendalam ketika para pendiri
republik menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai Sila Pertama. Mengingat
bahwa hanya dengan hadirnya spritualitas didalam jiwa sebuah masyarakat, dengan
Iman kepada Allah Yang Maha Kuasa, tiap-tiap orang rela mengorbankan dan
memberi hidup dan jiwanya untuk tujuan kehidupan bersama. Demikianlah yang kita
dapat pelajari dalam momen peristiwa 10 November 1945. Inilah yang menjadi
penjelasan ketika Bung Tomo meneriakkan pekik yang membakar semangat juang
yaitu: Allahu Akbar. Demikian pulalah yang membuat KH Hasym Asy’ari
mengeluarkan fatwa Resolusi jihad untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia
setelah ditanya oleh Bung Karno, bagaimana hukum dan posisi ummat Islam dalam
mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Demikianlah soliditas dan solidaritas
kebangsaan dari seluruh rakyat Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaannya.

 

       Dalam semangat cinta tanah air,
menjaga pusparagramnya dan kebhinekaan kita, para pendiri republik dan pahlawan
pendahulu menuangkan sumbangan terbaiknya kepada kita semua. Pada 28 Oktober
1928, seluruh pemuda Indonesia meluluhkan ego-ego kedaerahan, kelompok, ras dan
golongan untuk menyatakan dan berikrar sebagai satu tanah air Indonesia, bangsa
Indonesia dan bahasa Indonesia.

 

       Ikrar kebangsaan inilah yang
memberi spirit pengorbanan persatuan wanita Indonesia melalui Kongres Wanita
Indonesia tahun 1928 selaras dengan perjuangan RA Kartini untuk memberi
pendidikan modern dan kebangsaan bagi rakyat Nusantara sebelum Sumpah Pemuda
dicetuskan. Ikrar kebangsaan Indonesia inilah yang memberi semangat pada pemuda
Wage Rudolf Supratman untuk memperdengarkan pertama kalinya sebuah lagu yang
selanjutnya menjadi lagu kebangsaan Indonesia Raya dalam pertemuan Sumpah
Pemuda 1928. Kesadaran ke Indonesiaan ini pula yang menggerakan seorang
keturunan Tionghoa bernama Kwee Kek Beng yang menjadi pemimpin redaksi koran
Sin Po. Pada saat kepemimpinan beliaulah koran Sin Po menjadi koran pertama
yang berani memuat teks lagu Indonesia Raya meskipun harus berhadapan dengan
ancaman kolonial Belanda.

 

       Keteladanan untuk membangun
kebersamaan dan persatuan yang melampaui partikularitas ini pula yang menggerakkan
Pemuda Kristen asal Ambon bernama Johannes Leimena untuk mengkonsolidasikan
para pemuda Kristen lainnya, meninggalkan partikularitas - menjadi satu –
menjadi bagian dari Bangsa Indonesia. Semangat rela berkorban ini pula yang
menggerakkan KH Wahab Hasbullah pada tahun 1934 melahirkan syair menggetarkan
Yaa ahlal Wathan [wahai patriot bangsa] yang dengan karya seni ini beliau
menginsyaratkan sebuah fatwa penting bahwa kecintaan terhadap tanah air
Indonesia adalah bagian dari iman!

 

       Dan selanjutnya pada peristiwa
Pertempuran 10 November, inspirasi dari RA Kartini, ikrar Sumpah Pemuda, lagu
kebangsaan Indonesia Raya, keberanian dari Kwee Kek Beng, komitmen dari
Johannes Leimena, Syair Yaa ahlal Wathan dan berbagai karya cipta yang
menggerakkan ruh pendahulu kita, berperan besar sebagai penanda estetik heroik,
sebagai energi penggerak Arek - Arek Suroboyo yang dibantu dengan semangat
solidaritas dan bela rasa oleh seluruh Rakyat Indonesia untuk mempertahankan
kemerdekaan Republik Indonesia.

 

Saudara - saudari
sebangsa setanah air, patriot Bangsa yang budiman.

 

       Riwayat negeri kita Republik
Indonesia menorehkan banyak sekali teladan tentang semangat untuk memberi dan
semangat untuk berkorban menjaga persatuan Indonesia. Mari kita panggil memori
kita, pada saat fajar kemerdekaan Indonesia, pada 18 Agustus 1945 para pendiri
Republik dari golongan Islam yakni KH Wahid Hasjim, Kasman Singodimejo, Ki
Bagoes Hadikusumo dan Tengkoe Muhammad Hassan bersama dengan Muhammad Hatta
memberikan sumbangan besar bagi bangsa ini yakni menghapus tujuh kata “Dengan
menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk – pemeluknya” dan merubah Sila Pertama
menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa” dengan lapang hati.

 

       Semangat kebangsaan kita yang
juga kita kenang hari ini di Hari Pahlawan adalah sebuah nasionalisme yang
dilandasi oleh kemanusiaan universal bukan nasionalisme yang sempit. Sebuah
nasionalisme yang oleh Bung Karno diikrarkan bahwa “My nasionalisme is
Humanity”. Sebuah nasionalisme yang ditegaskan dalam pidato 1 Juni Lahirnya
Pancasila bahwa nasionalisme hanya bisa hidup subur di dalam tamansarinya
internasionalisme. Internasionalisme dapat hidup subur jikalau berakar dalam
buminya nasionalisme. Prinsip yang dibangun oleh sebuah landasan filosofis yang
tinggi bahwa kita bukanlah makhluk egois namun makhluk sosial yang menghimpun
menjadi satu sebagai sebuah bangsa, yakni bangsa Indonesia. Di dalam kehidupan menjadi
bangsa tersebut kita menyadari diri pula bahwa diri kita adalah bagian dari
keluarga besar ummat manusia.

 

       Saudara sebangsa setanah air
yang budiman, pada dasarnya setiap warga bangsa menyadari bahwa kita semua
mewarisi sebuah konsepsi, sebuah etos, sebuah niat dan tindak perilaku
kepahlawanan yang tinggi dan luar biasa. Inilah saatnya kita menuntaskan
perjuangan membangun bangsa dengan sikap mental yang positif dan kontruktif
yaitu membangun sebuah bangsa yang merdeka, maju, berdaulat dan terbuka. Hanya dengan
revolusi mental yang positif, optimis dan sadar riwayat kita sebagai bangsa
yang merdeka, bersatu, berdaulat dan terbuka kita menyelami tantangan dan
persoalan yang kita hadapi bersama dengan semangat persatuan didalam kesetaraan
seluruh anak bangsa tanpa diskriminasi!

 

Saudara - saudari
sebangsa setanah air, patriot Bangsa yang budiman.

 

       Pada era milenium kedua saat
ini kita tengah menyaksikan sebuah transformasi besar dalam hubungan
internasional  diantara bangsa - bangsa
dunia. Kita sedang menyaksikan suatu zaman yang diutarakan oleh jurnalis Gideon
Rahman pada tahun 2016 tentang fajar baru pergeseran global dimana kemajuan
peradaban dunia disebut sebagai era Easternization
atau Timurisasi.

 

      

       Dalam era kemajuan global
seperti ini negara - negara Asia dianggap sebagai kutub – kutub baru kemajuan
peradaban dunia. Oleh karena itulah persatuan Indonesia bukan hanya sebuah
imperatif yang harus kita rawat sebagai suatu bangsa namun lebih dari itu
Persatuan Indonesia adalah sebuah prasyarat bagi kita menjadi bagian dari kekuatan
yang tengah tumbuh, the rising force bersama dengan bangsa - bangsa lain yang
saat ini menjadi sorotan kemajuan seperti China, India dan Korea untuk menjadi
menara  menara baru pembawa obor
kemanusiaan. Membawa cahaya baru yang menjadi pandu kemajuan dunia berlandaskan
nilai – nilai Ketuhanan dan Kemanusiaan yang sejalan dengan nilai - nilai dasar
negara kita yakni Pancasila.

 

       Pada kesempatan yang baik ini
kami mengajak kepada seluruh lapisan masyarakat untuk terus berjuang, bekerja,
berkarya menjadi pahlawan bagi diri sendiri, pahlawan bagi lingkungan, pahlawan
bagi masyarakat maupun pahlawan bagi negeri ini, Selamat Hari Pahlawan Tahun
2017.

 

       Demikian, semoga Allah SWT Yang
Maha Esa senantiasa melindungi bangsa dan negara Indonesia. Amin.

Merdeka.

           

 

Sekian dan terima
kasih,

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.,

 

 

Jakarta,  10   November  2017

       MENTERI SOSIAL RI

 

     CaP ttd

 

 



































































































































































      KHOFIFAH INDAR PARAWANSA