Polling

Bagaimanakah kinerja instansi pemerintah daerah di Kabupaten Kebumen ?
Sangat Baik
Baik
Cukup
Tidak Tahu

Submit Lihat Hasil Polling

Hasil TMMD Desa Banjararjo
Sangat Baik
Baik
Cukup

Submit Lihat Hasil Polling

Profil / Sejarah

Sejarah

SEJARAH KODIM 0709/KEBUMEN

 

Tanggal 24 Agustus
1945 (sehari setelah seruan Presiden tentang Pembentukan Badan Keamanan
Rakyat), Eks Chudancho Soedrajat, bersama 400 orang Laskar/Pemuda melakukan
perlucutan senjata, amunisi dan peralatan militer Jepang serta pengambilalihan
markas KEMPETAI di kompleks Pabrik NV. Mexolie Panjer – Kebumen (kini Sari
Nabati), dan beberapa lokasi lain di dalam kota Kebumen yang pada saat itu dihuni
oleh Perwira Jepang.

 

Berdasarkan Maklumat
Pemerintah tanggal 5 Oktober 1945 dibentuklah Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Batalion III/Resimen Moekahar/Divisi V Purwokerto pimpinan Kolonel Soedirman
berkedudukan di kompleks Pabrik NV. Mexolie/Sari Nabati, eks Pabrik Gula/Gor
Gembira dan eks Gedung Kepatihan/MAN II Kebumen di desa Panjer dipimpin oleh
Mayor Soedrajat kemudian digantikan oleh Mayor R. P. S. Rachmat. Adapun Bengkel
Produksi Senjata bertempat di Sekolah Teknik (kini SMP N 7 Kebumen). Pada tanggal
25 Maret 1947 diserahkan kepada Kementerian Pertahanan di Yogyakarta.

 

Berdasarkan Penetapan
Pemerintah No. 2 Tanggal 7 Januari 1946 Tentara Keamanan Rakyat diubah menjadi
Tentara Keselamatan Rakyat. Kemudian disusul dengan adanya Dekrit Presiden tanggal
26 Januari 1946, Tentara Keselamatan Rakyat disempurnakan dan ditingkatkan
statusnya menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI). Batalion III berubah nama
menjadi Batalion 64/Resimen XX/Divisi III/Pangeran Diponegoro dipimpin oleh
Mayor R. P. S. Rachmat. Pada bulan Juni 1947 guna mempersiapkan berbagai
kemungkinan adanya pelanggaran Belanda terhadap Perundingan Linggarjati (Agresi
Militer Belanda I pada 21 Juli 1947) Markas batalion pindah ke Prembun
menempati bekas pabrik gula Prembun (pada masa kependudukan Jepang menjadi
Asrama Tentara Peta).

 

Sesuai dengan
Keputusan Presiden pada tanggal 3 Juni 1947 Tentara Republik Indonesia (TRI)
diubah menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI), dimuat dalam Berita Negara
Tahun 1947 No. 24. Batalion 62 dan 64/Resimen XX/Purworejo masuk ke dalam
Brigade Mataram. Komandan Batalyon 62 adalah Mayor Panoedjoe dan Komandan
Batalyon 64 adalah Mayor R. S. Rachmat.

 

Comando Operasi
Pertahanan Daerah Kedu Selatan (COP PDKS) dibentuk di Kebumen pada tanggal 5
Agustus 1947 (beberapa hari setelah Belanda menduduki Gombong) oleh Direktur
Jenderal Angkatan Darat (DDAD) Jenderal Mayor Abdoel Kadir yang pada saat itu
bermarkas di Kebumen. Fungsi COP PDKS sebagai pertahanan terluar Republik
Indonesia di wilayah barat guna menahan Belanda ke Yogyakarta. Komandan COP
Kebumen pertama dijabat oleh Letkol Koen Kamdani (Komandan Resimen XX), lalu
oleh Mayor Soedjono dari Resimen XXII, dan terakhir ketika Agresi Militer II
dijabat oleh Mayor R. P. S. Rachmat, Komandan Batalyon Teritorial Kedu V di
Kebumen. COP PDKS berkedudukan di kompleks Pabrik NV. Mexolie/Sari Nabati, eks
Pabrik Gula/Gor Gembira, eks Gedung Kepatihan/MAN II Kebumen di desa Panjer dan
bekas rumah dr. Goelarso Sosrohadi Koesoemo, Kepala RSU Kebumen (kini Sekolah
Taman Dewasa).

 

Pada Tanggal 19
Desember 1948 (Agresi Militer Belanda II) Kompleks Pabrik NV. Mexolie yang
tengah dibumihanguskan oleh TNI dapat diduduki Belanda setelah menerobos garis
status quo di Kemit. 4 Pejuang pelaksana bumi hangus dieksekusi di lapangan
tenis Mexolie. Selanjutnya Kompleks Mexolie dijadikan markas Koninklijk Leger
(KL).

 

Demi keselamatan
Negara Republik Indonesia Pada tanggal 25 Desember 1948 dikeluarkan Instruksi
Bekerja Pemerintah Militer Seluruh Jawa dengan No. 1/MBKD/1948. Berdasarkan
instruksi tersebut pemerintahan tertinggi adalah Pemerintahan Militer. Semua
alat kekuasaan negara di bawah militer, semua badan dan jawatan yang penting
dimiliterisasi, serta berlakunya hukum militer. Pemerintah Daerah Militer
Kebumen segera di bentuk. Menjabat sebagai Komandan PDM Kebumen pertama adalah
Mayor R. P. S. Rachmat selaku Komandan Komando Distrik Militer/KDM. Adapun PDM
pada awal dibentuk disebut juga Pemerintahan Gerilya sebab berada di tempat –
tempat tersembunyi yang tidak dapat diketahui oleh Belanda. PDM Kebumen sejak
dibentuk mengalami perpindahan beberapa kali yakni Di Dukuh Brondong, Kemejing,
Kecamatan Wadaslintang dengan Komandan Mayor R. S. Rahmat (hingga bulan Agustus
1949).

 

Sejak 13 Agustus 1949
(Gencatan Senjata) sampai dengan masa penyerahan Belanda ke RI pada tanggal 27
Desember 1949 menggunakan Kantor Kecamatan Alian.

 

Mulai 27 Desember
1949 kembali menggunakan Kompleks Pabrik NV. Mexolie yang pada saat Agresi
Militer Belanda II menjadi markas KL (Koninklijk Leger).

 

Berdasarkan Undang –
Undang No. 13 tahun 1956 yang ditetapkan pada tanggal 3 Mei 1956 maka Hubungan
Indonesia dan Belanda berdasarkan perjanjian Konfrensi Meja Bundar batal.
Perusahaan Belanda NV. Mexolie Kebumen dinasionalisasi. Pengambilalihan dari
pemerintah Belanda dilaksanakan oleh Mayor Soedjono dan Komandan PDM Kebumen
Kapten R. Soehada Koesoemawardadja pada bulan Januari 1958. Mexolie kemudian
diubah namanya menjadi Nabati Yasa dan sebagai Direktur Utamanya adalah Mayor
Soedjono (1958 – 1961).

 























































Pada tahun 1962 Pemerintah
Daerah Militer (PDM) berubah nama menjadi Komando Distrik Militer (KODIM),
termasuk juga PDM Kebumen berubah menjadi KODIM 0709/Kebumen.